Dari Pucuk-Pucuk
Daun Pagi
Dari
pucuk-pucuk daun pagi, embun berguguran
Menjadi
gerimis di tanah-tanah api
Kemudian
terbakar menjadi awan
Di
mana hujan menyimpan sepi
Dari
pucuk-pucuk daun pagi, sepi berhamburan
Menjadi
karapan di jalan-jalan mimpi
Kemudian
menetas menjadi perawan
Di
mana langit menitipkan rahim dan bayi
Dari
pucuk-pucuk daun pagi, suara bersautan
Menjadi
simfoni di altar-altar jampi
Kemudian
melebur menjadi hutan
Di
mana malam menyisakan mantra suci
Dari
pucuk-pucuk daun pagi, perawan malam tenggelam
Dalam
hujan dengan mantra-mantra suci, di hutan-hutan mimpi
Maka
jadilah aku: jadilah pagiku
Juli,
2013
Di Lantai Asap
Mengecup
waktu demi waktu. Musim bergemuruh
Di
dada. Jantung pun terpompa. Dan angin menyelinap
Dari
lubang-lubang duka. Aku terpaku: lewat waktu-waktu itu,
Api
membakar nafasku dari subuh ke subuh, dan embunmu
Bersemedi
di lantai-lantai asapku
Di
pagi embunmu lelap terpejam. Daun cemburu
Di
ujung rantingmu. Matahari pun menetas. Dan angin menguning
Di
rumahmu: lewat lantai-lantai asap itu, kupu-kupu mengepak
Membawa
gelombang warnaku dari musim ke musim, dan namamu
Mendekap
rindu di pintu-pintu hatiku.
Juli
2013
Kembali
Berbaring
Nafasku
hanya kuikhlaskan menjadi rumah
Untuk
warna-warna yang diziarahi mata. Bahkan matahari.
Maka
ketika warnaku meredup di ujung senja,
Aku
akan pulang: kembali berbaring di lantai-lantai suci ibuku
Juli,
2013
Menggaris Mimpi
Cahaya
di matamu melambaikan tangan dalam embun dan hujan
Memburai
resah semesta, sementara dadaku masih membentang
Menampung
segala airmata manjadi sungai, menyatukan hulu dan muara,
Dengan
tubuhku sawah, hutan, dan ladang
berdesir dalam sabda bahagia
Petani,
menari bersama angin dan musim panen di telapak tangan
Aku
masih menggaris mimpi di sepanjang jalan cahaya matamu
Melukis
sketsa surga yang percikan air sungainya membuat aku bergairah
Dan
lega menghirup nafas dunia ketika senyummu lebih lengkung merekah
Juli,
2013
Puisiku Menjadi
Hujan
Pada
negeri itu takdir puisiku mengalir seperti air, menghanyutkan fikir
Dalam
dzikir syair-syair sungai, sajakku merendah ke laut, samudera
Gelombang
gelora kata-kata menjadi rima matahari yang menari penuh gairah
Melayangkan
butir-butir puisiku ke langit biru, bersemedi di angkasa
Hingga
musim hujan itu negeriku basah: puisiku turun membasuh udara panas
Mencoba
menggemburkan tanah, batu dan penghuninya yang semakin mengeras
Puisiku
pun menjadi hujan pada rindu daun-daun yang gugur pada musim kemarau
Mempersembahkan
gairah dan hasrat pohon untuk berbuah dan basah merekah
Di
negeri sendiri
Juli,
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar