Rabu, 04 Juni 2014

sajak-sajakku di majalah Horison

Dari Pucuk-Pucuk Daun Pagi

Dari pucuk-pucuk daun pagi, embun berguguran
Menjadi gerimis di tanah-tanah api
Kemudian terbakar menjadi awan
Di mana hujan menyimpan sepi

Dari pucuk-pucuk daun pagi, sepi berhamburan
Menjadi karapan di jalan-jalan mimpi
Kemudian menetas menjadi perawan
Di mana langit menitipkan rahim dan bayi

Dari pucuk-pucuk daun pagi, suara bersautan
Menjadi simfoni di altar-altar jampi
Kemudian melebur menjadi hutan
Di mana malam menyisakan mantra suci

Dari pucuk-pucuk daun pagi, perawan malam tenggelam
Dalam hujan dengan mantra-mantra suci, di hutan-hutan mimpi
Maka jadilah aku: jadilah pagiku

Juli, 2013

Di Lantai Asap

Mengecup waktu demi waktu. Musim bergemuruh
Di dada. Jantung pun terpompa. Dan angin menyelinap
Dari lubang-lubang duka. Aku terpaku: lewat waktu-waktu itu,
Api membakar nafasku dari subuh ke subuh, dan embunmu
Bersemedi di lantai-lantai asapku

Di pagi embunmu lelap terpejam. Daun cemburu
Di ujung rantingmu. Matahari pun menetas. Dan angin menguning
Di rumahmu: lewat lantai-lantai asap itu, kupu-kupu mengepak
Membawa gelombang warnaku dari musim ke musim, dan namamu
Mendekap rindu di pintu-pintu hatiku.

Juli 2013 

Kembali Berbaring

Nafasku hanya kuikhlaskan menjadi rumah
Untuk warna-warna yang diziarahi mata. Bahkan matahari.
Maka ketika warnaku meredup di ujung senja,
Aku akan pulang: kembali berbaring di lantai-lantai suci ibuku

Juli, 2013

Menggaris Mimpi

Cahaya di matamu melambaikan tangan dalam embun dan hujan
Memburai resah semesta, sementara dadaku masih membentang
Menampung segala airmata manjadi sungai, menyatukan hulu dan muara,
Dengan tubuhku sawah, hutan, dan ladang  berdesir dalam sabda bahagia
Petani, menari bersama angin dan musim panen di telapak tangan

Aku masih menggaris mimpi di sepanjang jalan cahaya matamu
Melukis sketsa surga yang percikan air sungainya membuat aku bergairah
Dan lega menghirup nafas dunia ketika senyummu lebih lengkung merekah

Juli, 2013


Puisiku Menjadi Hujan

Pada negeri itu takdir puisiku mengalir seperti air, menghanyutkan fikir
Dalam dzikir syair-syair sungai, sajakku merendah ke laut, samudera
Gelombang gelora kata-kata menjadi rima matahari yang menari penuh gairah
Melayangkan butir-butir puisiku ke langit biru, bersemedi di angkasa
Hingga musim hujan itu negeriku basah: puisiku turun membasuh udara panas
Mencoba menggemburkan tanah, batu dan penghuninya yang semakin mengeras

Puisiku pun menjadi hujan pada rindu daun-daun yang gugur pada musim kemarau
Mempersembahkan gairah dan hasrat pohon untuk berbuah dan basah merekah
Di negeri sendiri

Juli, 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar