Sabtu, 07 Juni 2014

Aku Cinta Kamu

(1)

kau
menyandang bulan di bahu kanan
bintang muram di bahu kiri

kau
singgah di rumah ini
di atas bulan purnama
di atas gelombang samudera

di mana pun cinta berada
tersimpan luka yang mendera

hanya bintang-bintang pudar
temanku di malam-malam sunyi

dan di sini
di hati ini
aku masih menyanyikan lagu sunyi
di gugur-gugur bintang

dan usia
hanya sebatas penerimaan
ujung dan akhir

kini
kau kembali ke rumah tua
tempat ibumu melahirkan
puisi ketika senja

(2)

dirautnya batu rindu berhari-hari
karena angin datang dan pergi
tak memberi salam
Tentang hati yang pedih

bulan sangat sunyi
ketika kupahat nisan hati
bernama dan untuk diri sendiri

(3)

kau datang di bulan Juni
dengan senyum matahari
wajahmu bulan sabit
memberi cahaya di mata ini
di jiwa ini

kutemui dirimu di sepanjang kata
kalimat cinta yang tak biasa

kita mengaca dalam derai langit senja
lalu melukis bebukitan dengan hijau samudera mimpi berdua

kubawakan kata-katamu dalam puisi
seperti kopi yang kuminum setiap pagi
hitamnya masih mewarnai diri
sebab jalan tak selalu bebas duri

awal Agustus itu
kuterima kau sambil berselimut angin bumi
dan awan dan bintang hanya bersembunyi
di balik doa-doa sunyi

malam panjang di kotaku
bulan terang bersanding bintang di keningmu

kemudian kenangan gugur satu persatu
di kepalaku
membentuk kelahiran baru
di kamar kecilku

catatan di dinding rahim ibuku
tak pernah kuucapkan dalam tangisku
hanya salam penyair yang menyapamu

kau tahu bagaimana salam penyair itu?

Seperti pertemuan pertama kita yang begitu syahdu

(4)

aku terbenam dalam sunyi malam
hampir subuh ketika kau menyuguhkan rindu

sementara di jalan penjual sayur sudah berteriak
menawarkan mangsa untuk serigala di tubuh sajakku
berbentuk bulan purnama dan bintang putih
di tepinya menjulang pucuk-pucuk cemara dan mimpi

runtuhlah airmataku
kemudian melekat di dinding-dinding bisu
di rumah-rumah tua yang berhantu
menakuti pencuri mimpimu

kota ini berurat nadi asa
yang terus melambaikan tangan
ke setiap musim dan perawan yang tiba

(5)

kutulis kau dengan sajak bertinta hijau
ketika bulan berkisah tentang perawan desa
menyulam mimpi dengan padi
yang ditanam ayah di sawah ibunya

lalu bulan berkisah tentang perjaka di atas bukit
tentang malam yang bisu di desamu
saat keringat dan airmata menetes di tubuh perawan desa itu

kau pun lewat membawa rindu
di antara rumah-rumah bambu
menebar serpihan pilu di derit pintu

(6)

sejuk inikah yang menyiram malam
ketika api rindu membakar suaraku?

(7)

aku pergi ke kotamu
merenungi tanah dan doa-doa ibu
yang tumbuh subur di tubuhku

(8)

yang kubawa pulang
bukan laut, bukan impian
hanya airmata dan runtuhnya jiwa

(9)

melihat muka sendiri
masih seperti kemarin
padahal waktu terus melaju
dan kau tertawa bersama hujan yang baru

(10)

aku kembali padamu ketika malam
tapi hatiku hampir pagi dan kelam

(11)

Aku melihat diri ini di dalam laut
aku melihat laut dalam dirimu

aku mencecap pahit langit
langit mencecap pahitku

senja hanya kaca
melihat diri yang tak jauh beda
ketika diam tak melakukan apa-apa

(12)

yang pertama kuingat dan terakhir kulupakan adalah kau

kubuat dosa dan noda di tubuhmu
kuterima angan cinta dan airmata

yang pertama kukenal dan terakhir kutinggalkan adalah kau

tapi

yang pertama kupunya dan terakhir kulepaskan adalah kemerdekaan

yang pertama kucintai dan terakhir kukatakan adalah kebenaran

yang pertama kutulis dan terakhir kusajakkan adalah rindu

yang pertama kucari dan terakhir kumiliki adalah diri ini

(13)

yang tiba dari bintang dan bulan ketika malam
adalah cahaya ke setiap jalan
agar kau tahu arah yang kau tuju itu aku

(14)

ada satu yang belum kuketahui
ada yang datang dan pergi

(15)

aku melukis angin dan batu
pasir dan laut
sampan dan gelombang
dengan satu jari, satu ibu
kata-kataku

(16)

dengan bicara kita bisa berbagi suara dan cerita

dengan melihat kita bisa berbagi bentuk, cahaya, rupa dan mata

dengan melukis kita bisa berbagi warna, garis, dan tangan

dengan berpuisi kita bisa berbagi kata-kata dan makna

(17)

singgahlah di desaku
ada hijau rindu
yang akan menjawab salammu

kau akan disuguhkan beraneka ragam cerita
tentang nyanyian rumput di bukit desa
tentang cinta yang menyimpan luka

(18)

seperti puisi
lahir dan hadirmu bukan tanpa sebab

seperti puisi
suara dan bicaramu bukan tanpa makna

seperti puisi
diam dan heningmu bukan tanpa mimpi

seperti puisi
tawa dan tangismu bukan tanpa arti

seperti puisi
gerak dan diammu bukan tanpa tujuan

seperti puisi
aku cinta kamu

Sawangan Baru, 2018)

Rabu, 04 Juni 2014

sajak-sajakku di majalah Horison

Dari Pucuk-Pucuk Daun Pagi

Dari pucuk-pucuk daun pagi, embun berguguran
Menjadi gerimis di tanah-tanah api
Kemudian terbakar menjadi awan
Di mana hujan menyimpan sepi

Dari pucuk-pucuk daun pagi, sepi berhamburan
Menjadi karapan di jalan-jalan mimpi
Kemudian menetas menjadi perawan
Di mana langit menitipkan rahim dan bayi

Dari pucuk-pucuk daun pagi, suara bersautan
Menjadi simfoni di altar-altar jampi
Kemudian melebur menjadi hutan
Di mana malam menyisakan mantra suci

Dari pucuk-pucuk daun pagi, perawan malam tenggelam
Dalam hujan dengan mantra-mantra suci, di hutan-hutan mimpi
Maka jadilah aku: jadilah pagiku

Juli, 2013

Di Lantai Asap

Mengecup waktu demi waktu. Musim bergemuruh
Di dada. Jantung pun terpompa. Dan angin menyelinap
Dari lubang-lubang duka. Aku terpaku: lewat waktu-waktu itu,
Api membakar nafasku dari subuh ke subuh, dan embunmu
Bersemedi di lantai-lantai asapku

Di pagi embunmu lelap terpejam. Daun cemburu
Di ujung rantingmu. Matahari pun menetas. Dan angin menguning
Di rumahmu: lewat lantai-lantai asap itu, kupu-kupu mengepak
Membawa gelombang warnaku dari musim ke musim, dan namamu
Mendekap rindu di pintu-pintu hatiku.

Juli 2013 

Kembali Berbaring

Nafasku hanya kuikhlaskan menjadi rumah
Untuk warna-warna yang diziarahi mata. Bahkan matahari.
Maka ketika warnaku meredup di ujung senja,
Aku akan pulang: kembali berbaring di lantai-lantai suci ibuku

Juli, 2013

Menggaris Mimpi

Cahaya di matamu melambaikan tangan dalam embun dan hujan
Memburai resah semesta, sementara dadaku masih membentang
Menampung segala airmata manjadi sungai, menyatukan hulu dan muara,
Dengan tubuhku sawah, hutan, dan ladang  berdesir dalam sabda bahagia
Petani, menari bersama angin dan musim panen di telapak tangan

Aku masih menggaris mimpi di sepanjang jalan cahaya matamu
Melukis sketsa surga yang percikan air sungainya membuat aku bergairah
Dan lega menghirup nafas dunia ketika senyummu lebih lengkung merekah

Juli, 2013


Puisiku Menjadi Hujan

Pada negeri itu takdir puisiku mengalir seperti air, menghanyutkan fikir
Dalam dzikir syair-syair sungai, sajakku merendah ke laut, samudera
Gelombang gelora kata-kata menjadi rima matahari yang menari penuh gairah
Melayangkan butir-butir puisiku ke langit biru, bersemedi di angkasa
Hingga musim hujan itu negeriku basah: puisiku turun membasuh udara panas
Mencoba menggemburkan tanah, batu dan penghuninya yang semakin mengeras

Puisiku pun menjadi hujan pada rindu daun-daun yang gugur pada musim kemarau
Mempersembahkan gairah dan hasrat pohon untuk berbuah dan basah merekah
Di negeri sendiri

Juli, 2013


sajak-sajakku di koran Indopos

Kau Abulhayat

Di antara ribuan penyair yang menggali makna dalam kata-kata
Aku pun menjelma mata hati yang membaca
Di antara ribuan sajak yang bergema di lembar-lembar purba
Aku pun menjelma telinga yang mencerna
Di antara ribuan puisi yang menyentuh hati dan bianglala
Aku pun menjelma  tangan yang meraba
Di antara ribuan cerita tentang hidup dan nafas bumi
Aku pun menjelma hidung yang menghirupi
Di antara ribuan kata-kata mantra yang bersaksi
Aku pun menjelma roh yang mengamini
Di antara ribuan seniman jalan yang liar beraksi
Aku pun menjelma rasa yang menikmati
Di antara ribuan stupa dan dan candi-candi madah
Aku menjelma tanah yang menadah
Di antara ribuan bahkan jutaan cipta yang nikmat
Aku menyelinap menjadi kepundan menadah nubuat
Di alif yang tergores pada seonggok tulang yang sekarat
Adakah kau abulhayat yang berbuat?

Juli, 2013

Kening

Biarlah titik hitam ini bertengger di dahan pagi menjadi candi
Tempat asap dupa bersemedi seperti burung pipit dan angsa
Yang bercengkerama di balik jendela dengan embun sunyi
Dan dingin suara menyanyikan lagu-lagu asa

Karena titik hitam ini adalah sebuah salam yang diucapkan malaikat
Suatu malam ketika laut lebih biru sebelum matahari tenggelam
Bersama waktu yang menjadi kenangan silam

Kening ini menyimpan kenangan itu ketika malaikat mengetuk pintu
Dan ayah menerima sang tamu kemudian tubuhnya membujur kaku

Di dalamnya beribu rasa melebur dalam satu kata ketika kutabur bunga
Doa di atas tanahnya adalah matahari dan hujan yang reda
Karena pelangi muncul di antara mereka, di atasnya

Juli, 2013

Tempatku Mengecup

Nama dan darah menjelma ruang-ruang kata
Bulan dan bintang menjelma cahaya-cahaya warna
Hingga malam menjadi rumah
Tempatku mengecup bibir semua kenangan
Kenangan itu satu persatu duduk di ruang tamu
Menyuguhkan sebuah rindu di atas meja dadaku


Juli, 2013


Untuk Tamu

Untuk tamu yang masih di balik pintu
Tunggu sebentar akan kubuka pintu itu
Aku masih memendam pilu di ruang rindu
Sementara salammu menancap di hatiku
Dan senyum melengkung di wajahku

Untuk tamu yang mengetuk pintu
Masuklah dan simpanlah airmata ibu
Aku akan menjadi ikan di laut biru
Memeluk cakrawala di senja itu

Untuk tamu yang datang kali ini
Akan aku suguhkan melati
Untuk menemani obrolan teka-teki
Sambil meminum arak misteri

Silahkan dinikmati hidangan ala kadar ini
Jangan lupa cicipi rasa melati
Jangan sungkan reguklah arak-arak misteri
Untuk menemani obrolan hati

Kita lihat siapa yang paling mabuk hari ini
Di rumah ini!

Juli, 2013