(1)
kau
menyandang bulan di bahu kanan
bintang muram di bahu kiri
kau
singgah di rumah ini
di atas bulan purnama
di atas gelombang samudera
di mana pun cinta berada
tersimpan luka yang mendera
hanya bintang-bintang pudar
temanku di malam-malam sunyi
dan di sini
di hati ini
aku masih menyanyikan lagu sunyi
di gugur-gugur bintang
dan usia
hanya sebatas penerimaan
ujung dan akhir
kini
kau kembali ke rumah tua
tempat ibumu melahirkan
puisi ketika senja
(2)
dirautnya batu rindu berhari-hari
karena angin datang dan pergi
tak memberi salam
Tentang hati yang pedih
bulan sangat sunyi
ketika kupahat nisan hati
bernama dan untuk diri sendiri
(3)
kau datang di bulan Juni
dengan senyum matahari
wajahmu bulan sabit
memberi cahaya di mata ini
di jiwa ini
kutemui dirimu di sepanjang kata
kalimat cinta yang tak biasa
kita mengaca dalam derai langit senja
lalu melukis bebukitan dengan hijau samudera mimpi berdua
kubawakan kata-katamu dalam puisi
seperti kopi yang kuminum setiap pagi
hitamnya masih mewarnai diri
sebab jalan tak selalu bebas duri
awal Agustus itu
kuterima kau sambil berselimut angin bumi
dan awan dan bintang hanya bersembunyi
di balik doa-doa sunyi
malam panjang di kotaku
bulan terang bersanding bintang di keningmu
kemudian kenangan gugur satu persatu
di kepalaku
membentuk kelahiran baru
di kamar kecilku
catatan di dinding rahim ibuku
tak pernah kuucapkan dalam tangisku
hanya salam penyair yang menyapamu
kau tahu bagaimana salam penyair itu?
Seperti pertemuan pertama kita yang begitu syahdu
(4)
aku terbenam dalam sunyi malam
hampir subuh ketika kau menyuguhkan rindu
sementara di jalan penjual sayur sudah berteriak
menawarkan mangsa untuk serigala di tubuh sajakku
berbentuk bulan purnama dan bintang putih
di tepinya menjulang pucuk-pucuk cemara dan mimpi
runtuhlah airmataku
kemudian melekat di dinding-dinding bisu
di rumah-rumah tua yang berhantu
menakuti pencuri mimpimu
kota ini berurat nadi asa
yang terus melambaikan tangan
ke setiap musim dan perawan yang tiba
(5)
kutulis kau dengan sajak bertinta hijau
ketika bulan berkisah tentang perawan desa
menyulam mimpi dengan padi
yang ditanam ayah di sawah ibunya
lalu bulan berkisah tentang perjaka di atas bukit
tentang malam yang bisu di desamu
saat keringat dan airmata menetes di tubuh perawan desa itu
kau pun lewat membawa rindu
di antara rumah-rumah bambu
menebar serpihan pilu di derit pintu
(6)
sejuk inikah yang menyiram malam
ketika api rindu membakar suaraku?
(7)
aku pergi ke kotamu
merenungi tanah dan doa-doa ibu
yang tumbuh subur di tubuhku
(8)
yang kubawa pulang
bukan laut, bukan impian
hanya airmata dan runtuhnya jiwa
(9)
melihat muka sendiri
masih seperti kemarin
padahal waktu terus melaju
dan kau tertawa bersama hujan yang baru
(10)
aku kembali padamu ketika malam
tapi hatiku hampir pagi dan kelam
(11)
Aku melihat diri ini di dalam laut
aku melihat laut dalam dirimu
aku mencecap pahit langit
langit mencecap pahitku
senja hanya kaca
melihat diri yang tak jauh beda
ketika diam tak melakukan apa-apa
(12)
yang pertama kuingat dan terakhir kulupakan adalah kau
kubuat dosa dan noda di tubuhmu
kuterima angan cinta dan airmata
yang pertama kukenal dan terakhir kutinggalkan adalah kau
tapi
yang pertama kupunya dan terakhir kulepaskan adalah kemerdekaan
yang pertama kucintai dan terakhir kukatakan adalah kebenaran
yang pertama kutulis dan terakhir kusajakkan adalah rindu
yang pertama kucari dan terakhir kumiliki adalah diri ini
(13)
yang tiba dari bintang dan bulan ketika malam
adalah cahaya ke setiap jalan
agar kau tahu arah yang kau tuju itu aku
(14)
ada satu yang belum kuketahui
ada yang datang dan pergi
(15)
aku melukis angin dan batu
pasir dan laut
sampan dan gelombang
dengan satu jari, satu ibu
kata-kataku
(16)
dengan bicara kita bisa berbagi suara dan cerita
dengan melihat kita bisa berbagi bentuk, cahaya, rupa dan mata
dengan melukis kita bisa berbagi warna, garis, dan tangan
dengan berpuisi kita bisa berbagi kata-kata dan makna
(17)
singgahlah di desaku
ada hijau rindu
yang akan menjawab salammu
kau akan disuguhkan beraneka ragam cerita
tentang nyanyian rumput di bukit desa
tentang cinta yang menyimpan luka
(18)
seperti puisi
lahir dan hadirmu bukan tanpa sebab
seperti puisi
suara dan bicaramu bukan tanpa makna
seperti puisi
diam dan heningmu bukan tanpa mimpi
seperti puisi
tawa dan tangismu bukan tanpa arti
seperti puisi
gerak dan diammu bukan tanpa tujuan
seperti puisi
aku cinta kamu
Sawangan Baru, 2018)