Kau Abulhayat
Di
antara ribuan penyair yang menggali makna dalam kata-kata
Aku
pun menjelma mata hati yang membaca
Di
antara ribuan sajak yang bergema di lembar-lembar purba
Aku
pun menjelma telinga yang mencerna
Di
antara ribuan puisi yang menyentuh hati dan bianglala
Aku
pun menjelma tangan yang meraba
Di
antara ribuan cerita tentang hidup dan nafas bumi
Aku
pun menjelma hidung yang menghirupi
Di
antara ribuan kata-kata mantra yang bersaksi
Aku
pun menjelma roh yang mengamini
Di
antara ribuan seniman jalan yang liar beraksi
Aku
pun menjelma rasa yang menikmati
Di
antara ribuan stupa dan dan candi-candi madah
Aku
menjelma tanah yang menadah
Di
antara ribuan bahkan jutaan cipta yang nikmat
Aku
menyelinap menjadi kepundan menadah nubuat
Di
alif yang tergores pada seonggok tulang yang sekarat
Adakah
kau abulhayat yang berbuat?
Juli,
2013
Kening
Biarlah
titik hitam ini bertengger di dahan pagi menjadi candi
Tempat
asap dupa bersemedi seperti burung pipit dan angsa
Yang
bercengkerama di balik jendela dengan embun sunyi
Dan
dingin suara menyanyikan lagu-lagu asa
Karena
titik hitam ini adalah sebuah salam yang diucapkan malaikat
Suatu
malam ketika laut lebih biru sebelum matahari tenggelam
Bersama
waktu yang menjadi kenangan silam
Kening
ini menyimpan kenangan itu ketika malaikat mengetuk pintu
Dan
ayah menerima sang tamu kemudian tubuhnya membujur kaku
Di
dalamnya beribu rasa melebur dalam satu kata ketika kutabur bunga
Doa di
atas tanahnya adalah matahari dan hujan yang reda
Karena
pelangi muncul di antara mereka, di atasnya
Juli,
2013
Tempatku Mengecup
Nama
dan darah menjelma ruang-ruang kata
Bulan
dan bintang menjelma cahaya-cahaya warna
Hingga
malam menjadi rumah
Tempatku
mengecup bibir semua kenangan
Kenangan
itu satu persatu duduk di ruang tamu
Menyuguhkan
sebuah rindu di atas meja dadaku
Juli,
2013
Untuk Tamu
Untuk
tamu yang masih di balik pintu
Tunggu
sebentar akan kubuka pintu itu
Aku
masih memendam pilu di ruang rindu
Sementara
salammu menancap di hatiku
Dan
senyum melengkung di wajahku
Untuk
tamu yang mengetuk pintu
Masuklah
dan simpanlah airmata ibu
Aku
akan menjadi ikan di laut biru
Memeluk
cakrawala di senja itu
Untuk
tamu yang datang kali ini
Akan
aku suguhkan melati
Untuk
menemani obrolan teka-teki
Sambil
meminum arak misteri
Silahkan
dinikmati hidangan ala kadar ini
Jangan
lupa cicipi rasa melati
Jangan
sungkan reguklah arak-arak misteri
Untuk
menemani obrolan hati
Kita
lihat siapa yang paling mabuk hari ini
Di rumah
ini!
Juli,
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar