Rabu, 04 Juni 2014

sajak-sajakku di koran Indopos

Kau Abulhayat

Di antara ribuan penyair yang menggali makna dalam kata-kata
Aku pun menjelma mata hati yang membaca
Di antara ribuan sajak yang bergema di lembar-lembar purba
Aku pun menjelma telinga yang mencerna
Di antara ribuan puisi yang menyentuh hati dan bianglala
Aku pun menjelma  tangan yang meraba
Di antara ribuan cerita tentang hidup dan nafas bumi
Aku pun menjelma hidung yang menghirupi
Di antara ribuan kata-kata mantra yang bersaksi
Aku pun menjelma roh yang mengamini
Di antara ribuan seniman jalan yang liar beraksi
Aku pun menjelma rasa yang menikmati
Di antara ribuan stupa dan dan candi-candi madah
Aku menjelma tanah yang menadah
Di antara ribuan bahkan jutaan cipta yang nikmat
Aku menyelinap menjadi kepundan menadah nubuat
Di alif yang tergores pada seonggok tulang yang sekarat
Adakah kau abulhayat yang berbuat?

Juli, 2013

Kening

Biarlah titik hitam ini bertengger di dahan pagi menjadi candi
Tempat asap dupa bersemedi seperti burung pipit dan angsa
Yang bercengkerama di balik jendela dengan embun sunyi
Dan dingin suara menyanyikan lagu-lagu asa

Karena titik hitam ini adalah sebuah salam yang diucapkan malaikat
Suatu malam ketika laut lebih biru sebelum matahari tenggelam
Bersama waktu yang menjadi kenangan silam

Kening ini menyimpan kenangan itu ketika malaikat mengetuk pintu
Dan ayah menerima sang tamu kemudian tubuhnya membujur kaku

Di dalamnya beribu rasa melebur dalam satu kata ketika kutabur bunga
Doa di atas tanahnya adalah matahari dan hujan yang reda
Karena pelangi muncul di antara mereka, di atasnya

Juli, 2013

Tempatku Mengecup

Nama dan darah menjelma ruang-ruang kata
Bulan dan bintang menjelma cahaya-cahaya warna
Hingga malam menjadi rumah
Tempatku mengecup bibir semua kenangan
Kenangan itu satu persatu duduk di ruang tamu
Menyuguhkan sebuah rindu di atas meja dadaku


Juli, 2013


Untuk Tamu

Untuk tamu yang masih di balik pintu
Tunggu sebentar akan kubuka pintu itu
Aku masih memendam pilu di ruang rindu
Sementara salammu menancap di hatiku
Dan senyum melengkung di wajahku

Untuk tamu yang mengetuk pintu
Masuklah dan simpanlah airmata ibu
Aku akan menjadi ikan di laut biru
Memeluk cakrawala di senja itu

Untuk tamu yang datang kali ini
Akan aku suguhkan melati
Untuk menemani obrolan teka-teki
Sambil meminum arak misteri

Silahkan dinikmati hidangan ala kadar ini
Jangan lupa cicipi rasa melati
Jangan sungkan reguklah arak-arak misteri
Untuk menemani obrolan hati

Kita lihat siapa yang paling mabuk hari ini
Di rumah ini!

Juli, 2013


Tidak ada komentar:

Posting Komentar